Struktur Komunitas Makrozoobenthos (Epifauna) Pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Bedukang Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka

Authors

  • Nursyah Putra Universitas Bangka Belitung
  • Wahyu Adi Universitas Bangka Belitung
  • Muh Yusuf Universitas Bangka Belitung

DOI:

https://doi.org/10.30649/jrkt.v1i1.15

Keywords:

makrozoobenthos, struktur komunitas, persentase terumbu karang, manfaat.

Abstract

Benthos adalah salah satu organisme dasar yang biasa ditemukan di daerah terumbu karang. Aktivitas nelayan yang mengelilingi terumbu karang akan berdampak pada tutupan karang juga organisme benthos, yang dapat dilihat dari variabel struktur komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi makrozoobentos (Epifauna) di ekosistem terumbu karang, untuk menganalisis persentase bentuk kehidupan karang dan untuk memeriksa kemungkinan pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan pada Maret 2018 di perairan Bedukang, Riau Silip, Kabupaten Bangka. Metode Belt Transect digunakan untuk pengambilan data makrozoobenthos (Epifauna) dan Line Intercept Transect untuk pengambilan data terumbu karang. Hasil penelitian ini adalah kerapatan makrozoobentos (Epifauna) 3,663 ind / ha di perairan Bedukang. Kepadatan makrozoobentos (Epifauna) paling tinggi adalah Drupella sp. (Kelas Mollusca) adalah 1.575. Nilai keanekaragaman tertinggi di stasiun 4 adalah 2.026 ind / ha, nilai keseragaman tertinggi di stasiun 1 adalah 2.466, dan nilai dominansi tertinggi di stasiun 3 adalah 0.406. Persentase terumbu karang di perairan Bedukang baik dan sedang, persentase tertinggi di stasiun 2 adalah 54,23% dan persentase terendah di stasiun 3 adalah 43,01%. Makrozoobenthos (Epifauna) ditemukan paling banyak digunakan untuk makanan dan paling sedikit digunakan untuk kosmetik.

References

Abrar et al,. 2014. Baseline Survei Kesehatan Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh dan Laut. Jakarta

Afifudin I.K. 2014. Profil Asam Lemak dan Asam Amino Gonad Bulu Babi.[Skripsi].Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prodi Teknologi Hasil Perairan.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Aziz, A. 1988.Pengaruh Tekanan Panas Terhadap Fauna Ekhinodermata. Jurnal Oseana. XIII (3) : 125-132.

Aziz, A. 1995. Beberapa Catatan Tentang Teripang Bangsa Aspidochirotida. Jurnal Oseana. XX (4) : 11-23.

Basir A. 2013. Aktivitas Antimalaria Ekstrak Teripang Keling (Holothuria atra) Terhadap Plasmodium falciparum Secara In Vitro. [Skripsi].Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prodi Teknologi Hasil Perairan.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Brower, J. E. And J. H, Zar. 2007. Field and Laboratory Methods for General Ecology.W. M Brown Company Publ. Dubuque Lowa.Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Burke L., Selig E., Spalding M., 2002 Terumbu Karang Yang Terancam Di Asia Tenggara (Ringkasan untuk Indonesia), World Resources Institute, AmerikaSerikat.

Clark, A.M. dan Rowe, F.W.E. 1971. Monograph of Shallow-Water Indo-West Pacific Echinoderms. Trustees of The British Museum (Natural History). London.

Colin P.L. dan Arneson A.C. 1995. Tropical Pacific Invertebrates.Coral Reef Press. California, U.S.A.

Collignon, J., 1991. Ecologie et biologie marines: Introduction àl'halieutique. Mason, Paris.

Darsono P. 2003.Sumberdaya Teripang dan Pengelolaannya.Oseana. XXVIII (2) : 1-9.

DeVantier L.M., Endean R. 1988. The Scallop Pedum spondyloideum Mitigates the Effects of Acanthaster plancii Predation on the Host Coral Porites: Host Defence Facilitated by Exaptation?. Marine Ecology Progress Series Jounal 47(3):293-301.

Dharma, B. 1992.“Siput dan Kerang Indonesia.Indonesian Shells. Vol II”, Verlag Christa Hemmen. Weisbaden: Hemmen, Jerman, 1-131.

Fachrul, Melati.F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. PT.Bumi Aksara. Jakarta

English S., C. Wilkinson & V. Baker. 1994. Survey manual for tropical marine resources. ASEAN-Australia Marine Science Project: Living Coastal Resources.

Hill, J. Dan Wilkinson, C. 2004. Methods for ecologicalMonitoring of Coral Reefs (Version I).Australia Institute of Marine Science. Townsville, Australia.

Hutabarat S dan Evans S M. 1985. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. Nomor 04.Tahun 2001.Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang.

Kordi, M. Gufron. H. 2012. Jurus Jitu Pengelolaan Tambak Untuk Budidaya PerikananEkonomis. Lily Publisher. Yogyakarta.

Kuncoro, E.B. 2004. Akuarium Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Krebs, C.J. 1989. Ecological Methodology.Haper Collins Publisher. New York.

Latuconsina, H. 2016. Ekologi Perairan Tropis : Prinsip Dasar Pengelolaan Sumber Daya Hayati Perairan. Gadjah Mada University Press.

Odum, E.P. Dasar-dasar Ekologi. Dialihbahasakan oleh Tjahjono Samingan 1993. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Oktavianti R., Suryanti, dan Purwanti F. 2014. Kelimpahan Echinodermata Pada Ekosistem Padang Lamun di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. Diponegoro Journal of Maquares. Vol.3, No.4, Hal.243-249.

Pratiwi R. 2006. Biota Laut : Bagaimana Mengenal Biota Laut?. Oseana. XXXI (1) : 27-38.

Putram N.M., Setyaningsih I., Tarman K., dan Nursid M. 2017. Aktivitas Antikanker Fraksi Aktif Teripang. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 20 (1) : 53-62.

Radjab A.W., Rumahenga S.A., Soamole A., Polnaya D. dan Barends, W. 2014. Keragaman dan Kepadatan Ekinodermata di Perairan Teluk Weda, Maluku Utara.Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 6 (1) : 17-30.

Ridhowati S., Zakaria F., Syah D., dan Chasanah E. 2014. Sea Cucumber As Anticancer Agents And Its Development For Functional Food Products. Squalen Bulletin of Marine & Fisheries Postharvest & Biotechnology. 9 (2) : 85-96.

Safitri, D.R. 2010. Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif Lili Laut (Comaster sp.). [Skripsi].Fakultas Perikanan dan Kelautan, Prodi Teknologi Hasil Perairan.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Suharsono. 1999. Kondisi Umum Terumbu Karang di Indonesia, LIPI. Jakarta.

Suharsono. 2008. Jenis-jenis Karang yang Umum dijumpai di Perairan Indonesia,Puslitbang Oseanologi - LIPI. Jakarta.

Suin,N.M. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.

Suwignyo S., Widigdo B., Wardiatno dan Krisanti M. 2005. Avertebrta Air (Jilid 2).Penebar Swadaya.Depok.

Toha A.H.A. 2006. Ulasan Ilmiah : Manfaat Bulu Babi (Echinoidea), Dari Sumber Pangan Sampai Organisme Hias. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 13 (1) : 77-82.

Yulianda, F. 2003. Pengelolaan Terumbu Karang Di Kawasan Wisata Bahari. FakultasPerikanan Dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.

Zarkaysi. 2016. Diversitas dan Pola SebaranDistribusi Bivalvia di Zona Intertidal DaerahPesisirKecamatan Ujung PangkahKabupaten Gresik. Jurnal IlmiahBiosaintropis (Biocience-Tropic). Vol 2 (1) :1-1.

Additional Files

Published

2019-04-01

How to Cite

Putra, N., Wahyu Adi, & Muh Yusuf. (2019). Struktur Komunitas Makrozoobenthos (Epifauna) Pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Bedukang Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka. Jurnal Riset Kelautan Tropis (Journal Of Tropical Marine Research) (J-Tropimar), 1(1), 16–33. https://doi.org/10.30649/jrkt.v1i1.15

Issue

Section

Articles